Tuntunan Islam tentang Fiqih Tayammum

Tuntunan Islam tentang Fiqih Tayammum

Tuntunan Islam tentang Fiqih Tayammum

Bersuci Dengan Debu


Tuntunan Islam tentang Fiqih Tayammum - Syari’at Islam ialah ajaran yang amat sempurna. sesuatu ajaran yang diturunkan dari sisi Dzat Yang Maha mengenali lagi Maha Bijaksana. Oleh pasal itu siapa saja yang dengan lapang dada serta hati gembira menyambut syariat Islam yang diangkut oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai jalan hidupnya tersebutkan sebenarnyadia sudah mendapatkan cahaya penerang dan ruh kehidupannya. Para pembaca yang budiman, Islam mengajarkan umatnya buatberibadah kepada Allah dalam kondisi suci. Oleh pasal itu disyariatkanlah syariat bersuci. serta sebagaimana telah diketahui di kalangan umat Islam bersuci itu meliputi wudhu, mandi serta tayamum. Nah, terhadap kesempatan yang berbahagia ini kita akan membahas mengenai problem tayamum. Semoga Allah ta’ala mengaruniakan ilmu yang berguna kepada kita Pengertian TayamumSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan tayamum sebagai berikut. Secara bahasa tayamum bermakna bermaksud atau menyengaja. Sebagaimana ungkapan orang Arab tayyamamtu asy-syai’a yang artinya qashadtuhu (saya menginginkannya). Adapun dalam terminologi syariat, yang dimaksud dengan tayamum yaitu:membasuh wajah serta kedua telapak tangan dengan memakaikan ash-sha’id yang suci sebagai substitusi bersuci dengan air yaitu ketika terhalangi memakai air. Bahkan syariat tayamum ini merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh umat ini. Allah mensyariatkannya demi menyempurnakan agama mereka, serta juga sebagai gejala evidensi kasih sayang serta cinta kasih-Nya kepada mereka (lihat Tanbiihul Afhaam wa Taisirul ‘Allaam, jilid 1 Perihal. 112)

Dalil Pensyari’atannya

Diriwayatkan dari sahabat ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menatapadanya seorang lelaki yang memisahkan diri tak ikut shalat berjamaah bersama orang-orang. tersebutkan beliau pun menanyakankepadanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangimu buat shalat bersama orang-orang ?” Lelaki itu menjawab,“Wahai Rasulullah, akumerasakan junub sementara air tak ada”. tersebutkan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya engkau bersuci dengan ash-sha’id, itu saja telah cukup bagimu”. (HR. Bukhari no. 348 dalam At-Tayamum) Yang dimaksud dengan ash-sha’id ialahpermukaan bumi dan segala sebuah yang berdiri di atasnya. Oleh Karena itu diperbolehkan bertayamum dengan apapun yang masih layak dikatakan sebagai area permukaan bumi. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Malik dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumullah (lihat Shahih Fiqih Sunnah, I/198) Hadits ini tunjukkan jikalau apabila tak adanyaair tersebutkan diperbolehkan bersuci dengan metode tayamum. serta tunjukkan pula jikalau tayamum itu berkedudukan sebagaimana bersuci dengan air, sepanjang air tak adanya atau tak sanggup memakainya(lihat Tanbiihul Afhaam wa Taisirul ‘Allaam, jilid 1 Perihal. 113-114)

Sebab-Sebab dilaksanakan Tayamum

Tayamum boleh dilaksanakan karena: (1) Ketika tak sanggup memakai air, atau (2) pasal tak adanya air, atau (3) pasal was wasakan bahaya yang muncul jika tersentuh air gara-gara tubuh sedang menderita sakit atau pasal hawa dingin yang amat menusuk. Bahkan mayoritas ulama berpendapat jikalau seseorang yang was was meninggal dikarenakan hawa dingin yang amatmenyerang diperbolehkan buat bertayamum, pasal kondisinya mirip dengan kondisi orang yang sakit (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, I/196) Dalil-dalilnya adalah: Allah ta’alaberfirman yang artinya, “Dan (apabila) setelah itu kalian tak berhasil mendapatkan air tersebutkan bertayamumlah dengan tanah yang suci”. (QS. An-Nisaa’: 43) Diriwayatkan dari Jabirradhiyallahu’anhu jikalau dia berkata; terhadap suatu saat kami bepergian dalam sesuatu rombongan trip. seketika adanya seorang lelaki diantara kami yang tertimpa batu sehingga menyisakan luka di kepalanya. sebagian masa sesudah itu dia merasakan mimpi basah. tersebutkan dia pun menanyakan kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah rujukan oleh kalian dalam keadaan ini aku dikasi keringanan buatbertayamum saja?” Menanggapi persoalan itu mereka menjawab, “Menurut kami engkau tak diberikan keringanan buatmelaksanakan Perihal itu, sementara engkau sanggup memakai air”. tersebutkan orang itu pun mandi serta akhirnya mati. Tatkala kami berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebutkan beliau memperoleh report mengenai peristiwa itu. Beliau bersabda, “Mereka sudah mengakibatkan dia meninggal ! Semoga Allah membinasakan mereka. Kenapa mereka tak mau menanyakan ketika tak mengenali. pasal sebenarnya obat ketidaktahuan ialah dengan bertanya. sesungguhnya dia cukup bertayamum saja”. (HR. Abu Dawud, Ahmad serta Hakim. Dinilai shahih oleh Syaikh Abdul ‘Azhim Badawi. Lihat Al Wajiz Perihal. 55. Namun hadits ini dinilai tidak kuat oleh Imam Al-Baihaqi serta Ibnu Hazm pasal sanadnya tidak kuat. Lihat Shahih Fiqih Sunnah, I/195)

Tata Caranya

Diriwayatkan dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu jikalau dia berkata; ‘Saya pernah merasakan junub serta ketika itu aku takmenemukan air (untuk mandi, pen). Oleh pasal itu aku pun bergulung-gulung di tanah (untuk bersuci, pen) serta setelah itu akumenjalankan shalat. tersebutkan Perihal itu pun aku ceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Sebenarnya telah cukup bagimu bersuci dengan metode layaknya ini”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memukulkan kedua telapak tangannya di atas tanah serta meniup keduanya. setelah itu dengan kedua telapak tangan itu beliau membasuh wajah serta telapak tangannya’. (HR. Bukhari serta Muslim) didasarkan hadits ini serta juga hadits lainnya tersebutkan tata metode tayamum yang benar ialah cukup dengan menepukkan kedua telapak tangan (1X) ke tanah atau permukaan bumi yang lainnya, setelah itumeniupnya, lantas membasuh dengan kedua telapak tangannya itu wajah serta telapak tangannya (dari ujung jari sampai pergelangan, area luar serta dalam telapak tangan) (lihat Shahih Fiqih Sunnah, I/202-203)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memaparkan jikalau tata metode tayamum pasal junub setara halnya dengan tayamum pasal hadats kecil yaitu dengan metode menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya sekali serta setelah itumembasuh telapak tangan kirinya dengan area dalam telapak tangan kanannya serta juga area luar kedua telapak tangannya danwajahnya. Demikianlah penjelasan beliau tatkala menerangkan hadits ‘Ammar bin Yasir di atas. Syaikh Ibnu Bassam hafizhahullah menerangkan bahwatayamum itu cukup dengan satu kali tepukan saja. Inilah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama, di antara mereka ialah Imam Ahmad, Al-Auza’i, Ishaq dan para ulama ahli hadits didasarkan hadits-hadits shahih (lihat Tanbiihul Afhaam wa Taisirul ‘Allaam, jilid 1 Perihal. 116 serta 117)

Bertayamum Dengan Dinding

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma jikalau dia berkata; aku datang bersama dengan ‘Abdullah bin Yasar bekas budak Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamTatkala. kami bertemu dengan Abu Jahim bin Al-Harits bin Ash-Shamah Al-Anshari tersebutkan Abu Jahim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang dari arah sumur Jamal. setelah ituadanya seorang lelaki yang menemuinya serta mengucapkan salam kepada beliau. tersebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak menjawab salamnya hingga beliau menyentuh dinding (dengan tangannya, pen) setelah itu membasuh wajah serta kedua telapak tangannya. Baru sehabis itu beliau mau menjawab salamnya”. (Muttafaq ‘alaih) Hadits ini tunjukkan jikalau bertayamum dengan mengusap dinding diperbolehkan (lihat Al-Wajiz, Perihal. 57)

Pembatal Tayamum

Tayamum menjadi batal pasal hal-hal yang dapat membatalkan wudhu. disamping itu tayamum juga dinilai batal apabila air berhasil diciptakan oleh orang yang berupaya menelusuri namun belum menemukannya. serta tayamum juga dinilai batal apabila seseorang yang terhadap awalnya tak sanggup memakai air pasal sakit atau sebab mengapa lainnya nyatanya terhadap saat itu dia telah kembali sanggup menggunakannya. sementara shalat yang telah dilaksanakan lebih awal dengan bekal tayamum tersebut tetap dinilai sah serta tak butuh diulangi. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu jikalau beliau berkata; ‘Ada dua orang lelaki yang menempuh suatu trip. tersebutkan tibalah masa shalat sedangkan mereka berdua tak memperoleh air setara sekali. Oleh Karena itu mereka pun bertayamum dengan tanah yang suci lantas melaksanakan shalat. setelah itu terhadapsuatu saat nyatanya mereka mendapatkan air. tersebutkan salah seorang dari keduanya mengulangi wudhu serta shalat, sementara kawannya yang satu tidak. setelah itu mereka berdua menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sertamenceritakan kejadian tersebut kepada beliau. tersebutkan beliau berkata kepada orang yang tak mengulangi shalatnya, “Engkau sudah sesuai dengan tuntunan. serta shalatmu pun dinilai sah”Dan. beliau berkata kepada orang yang berwudhu serta mengulangi shalatnya, “Engkau mendapati pahala dua kali”. (HR. Abu Dawud serta An-Nasa’i, Shahih Sunan Abu Dawud : 327. lihat Al-Wajiz Perihal. 56-57)

Haruskah Mengusap Perban bila Terluka?

Seseorang yang terluka atau patah salah satu area badannya (anggota tubuh yang dikenai usapan wudhu atau tayamum, pen) tersebutkan dia tak berkewajiban mengusapnya (ataupun perbannya, pen) tatkala berwudhu ataupun tayamum. Dalilnya ialahfirman Allah ta’ala yang artinya, “Allah tak akan membebankan kepada seseorang melainkan rujukan oleh kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah: 286) Begitu pula sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Apabila saya memerintahkan kalian buat menjalankan sebuahtersebutkan laksanakanlah rujukan oleh kemampuan kalian”. (HR. Muslim serta An-Nasa’i) didasarkan ayat al-Qur’an serta As-Sunnah ini tersebutkan gugurlah keharusan dari tiap orang yang tak berkesanggupan menjalankannya. mematokkan adasubstitusi tata metode tersebut (mengusap partisipan badan, pen) dengan mengusap yang lain (seperti perban serta semacamnya, pen) ialah perlakuan pensyari’atan. sementara syariat tak dapat digariskan kecuali dengan al-Qur’an atau as-Sunnah. Padahal takadanya satu pun dalil dari al-Qur’an ataupun as-Sunnah yang mengatakan ada substitusi perlakuan mengusap partisipan tubuhyang terluka dengan mengusap perban atau pembalut lukanya. Oleh pasal itu pendapat yang menyiratkan dituntunkan buatmengusap perban ialah pendapat yang tertolak (lihat Al-Wajiz, Perihal. 57)

Demikianlah sejauh pembahasan mengenai tayamum. Semoga kaum muslimin dapat memetik manfaat darinya, begitu pula penyusunnya dan orang-orang yang turut menyebarkannya. Ya Allah terimalah amal kami, sebenarnya Engkau Maha Mendengar lagi mengenali. serta terimalah taubat kami, sebenarnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang Sumber: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Share this with short URL: Get Short URL loading short url

You Might Also Like:

Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Disukai

0 Comment

Add Comment

Gunakan konversi tool jika ingin menyertakan kode atau gambar.


image
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS] - lihat di sini

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed
×
×